Kelas 62 Kg Dihapus, Indonesia Kehilangan Emas Asian Games 2018?

Jelang Asian Games 2018 yang tinggal lima bulan lagi, Indonesia mendadak dikejutkan dengan keputusan Federasi Angkat Besi Asia (AWF). Bagaimana tidak terkejut, AWF rupanya memutus menghapus kelas 62 kg dari Asian Games 2018. Keputusan yang dikeluarkan oleh AWF lewat surat tertanggal 11 Februari 2018 itu sudah resmi ditandatangani oleh Mohamed Yousef Al Mana selaku Presiden AWF. AWF mengonfirmasi bahwa keputusan Komite Teknis AWF dan anggota dewan eksekutif AWF mayoritas memilih menghapus kelas 62 kg dari Asian Games.

 

Tentu saja keputusan Agen poker terpercaya ini sangat merugikan Indonesia karena kelas 62 kg termasuk salah satu potensi medali emas kontingen Merah Putih di Asian Games 2018. Karena di nomor itu, Indonesia memiliki lifter tangguh yang penuh pengalaman, Eko Yuli Irawan. Bahkan lewat 62 kg pula, Eko berhasil menyumbangkan medali perak untuk Indonesia di Olimpiade Rio 2016.

 

“Angkat besi memang akan mempertandingkan tujuh kelas. Cuma memang tidak diputuskan mana yang akan dibuang. Tahu-tahu kelas 62 kg yang dibuang. Kami tidak tahu waktu test event Asian Games dikatakan belum diputuskan dan tahu-tahu suratnya sudah keluar. Kita seperti dikerjain. Jadi yang dipertandingkan itu di kelas putra 56 kg, 69 kg, 77 kg, 85 kg, 94 kg, 105 kg dan +105 kg. Kelas 62 kg dibuang,” papar Alamsyah Wijaya selaku Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PABBSI tampak benar-benar kecewa.

 

PABBSI Siapkan Opsi Kelas 62 Kg Dihapus

 

Masalah ini jelas membuat PABBSI harus mencari solusi secepatnya. Apalagi Eko jelas sangat dirugikan karena dalam test event Asian Games yang juga uji coba paling akhir, Eko berhasil meraih medali emas di kelas 62 kg. Tak ingin mendapatkan kerugian makin lebar, Kemenpora sampai berkirim surat kepada Ahmed Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah selaku Presiden Olympic Council of Asia agar keputusan AWF itu bisa dibatalkan. Bukan cuma itu saja, Kemenpora mendesak INASGOC dan PB PABBSI menggunakan jaringan mereka di Asia dan internasional untuk membatalkan keputusan AWF, seperti dilansir Detiksport.

 

“Eko tidak mungkin turun kelas. Paling mungkin dia naik kelas jika melihat kondisi yang ada. Meski harus naik pun, kami harus rela hati ada yang tidak diikutsertakan. Sebab, masing-masing negara kuotanya hanya dua atlet. Saat ini kita ada Deni dan Triyatno di kelas 69 kg. Jadi mau tak mau harus seleksi lagi. Waktunya pendek kan, akhirnya tambah pelan kecepatannya. Kalau anak muda mungkin proses adaptasi ototnya cepat, tapi Eko sekarang 28 tahun, kan tidak mungkin diberi program latihan sepanjang hari. Itu akan sulit,” papar Alamsyah panjang lebar.

 

Sembuh Dari Tifus, Eko Yuli Tunggu Kejelasan

 

Pilihan terburuk yang dihadapkan kepada Eko jelas membuat PABBSI harus melakukan langkah hati-hati. Apalagi Eko dikabarkan baru bisa menjalani program latihan intensif pada bulan April mendatang karena dirinya harus berisirahat total sepanjang bulan Maret. Bukan tanpa alasan kenapa Eko harus beristirahat total, karena dirinya memang terserang penyakit tifus di bulan Februari saat berlibur usai test event Asian Games.

 

“Saya pasrahkan polemik kelas 62 kg ini ke Menpora, KOI dan PABBSI yang mengurusnya. Karena semua pasti berharap kelas itu tetap ada. Dan saya berusaha untuk berpikiran positif, ini bakal diperjuangkan karena itu saya tidak banyak klarifikasi karena belum tahu hasilnya. Semua masih negosiasi,” tutup Eko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *